Cuman gara-gara jadi anak 'berbakti' tadi pagi. Gue bantuin sang Mama beresin gudang dan ngobrakngabrik isinya. Misahin 'yang penting', 'yang calon sampah', dan 'calon uang' (bisa dijual -red). Gue beresin beberapa kotak kardus yang isinya buku. Isinya lengkap dari punya bokap, nyokap, kakak gue, gue, ampe ade gue.
Waktu sadar kalo beberapa buku di salah satu kotak adalah milik gue jaman SMA, gue sedikit 'kegelitik' buat ngebuka buku-buku catetan gue selama tiga tahun di jaman putih abu-abu, khususnya bagian belakang buku, soalnya gue pasti sering nulis anehaneh di sana. Hahahhahaahaaa.
Di beberapa buku, ada 'chattingan' gue sama temen deket gue, si Andin, si Kutil, si Uwie.. Hahahahhahaaaa, ga mungkin gue share isi curhatannya disini, tapi yang pasti isinya soal cowok semuaa!!! Udah mah gue lupa cara baca tulisan alay.. Kwakkakakakaakakakkk. Entahlah mereka masih inget sama kebiasaan kita yang ini atau nggak, tapi jujur gue kangen.
Di bagian (yang sangat banyak), hampir di semua buku malah, ada tandatangan gue. Hihhihihiii. Dan beberapa tandatangan yang ikutan 'sok eksis' di buku gue. Siapa lagi kalau bukan milik bocah-cobah tengil itu (read: Andin, Kutil, Uwie), lengkap dengan lambang Bezz-nya. HUahhahahahahahahahaaaa
Di salah satu buku, gue nemu foto sang mantan yang hampir gue gak inget lagi kalau gue pernah jadi ceweknya. Huuuaaaaaa.. Langsung lah gue teringat dengan semua cerita yang pernah dia bikin bareng gue. Gue juga sadar kalo gue masih inget tanggal kita berdua jadian.
1 Juli 2007
Itu berapa taun yang lalu yaaaakk?
Walau bagaimanapun, gue bersyukur pernah sayang sama orang kayak dia. Sayangnya, gue udah ga tau dia dimana.
Miss you so much, Joe Maverick
:')
Tapi di beberapa buku, dan beberapa serpihan kertas, gue juga nemu 'potongan katakata' yang udah hobi buat gue susun dari jaman gue SMP. Hehheee. Gue nemu beberapa puisi yang sempet gue bikin jaman breto. Semua puisi itu udah benerbener ga gue inget sama sekali, dan gue bersyukur banget menemukan mereka.
Inilah mereka,
Aku menuliskan segaris nada bisu di keningku
Menyanyikan irama sepi pada puing-puing sunyi
Angkat aku ke jalan
Dimana manusia bercakap ramai
BICARA SENDIRI-SENDIRI
Dan ku jadikan tontonan drama dalam kegelapan
Pemain yang terlalu banyak bicara
Dialog dengan emosi sebagai dasarnya
INI BODOH
Sebaris anak-anak duduk, lalu ibunya berdansa
Tidakkah ada lagu disini?
Seisak tangis tersudut menjadi musik yang lembut
INI GILA
Lalu aku kan menulis sebaris kata
'Dimana suara negeriku?'
Bukankah aku wajib berbangga
Meski entah pada apa
Lagu sepi ini terus mengalun
Menghangatkan batu yang tertidur (March 27th, 2008)
Aku akan datang
Nyanyikan selantun nada rimba, namun sunyi
Di depan onggokan batu bisu
Aku memang sendiri
Karena tapak dan jejak yang ku cari, jauh berlari
Meninggalkan sebuah jarum berbuah ranum
Yang bersenanghati menusuk pikiranku
'Ku mohon pergilah..
Jangan kau hampiri aku saat kau sinari duri
Yang menusuk dan menari
lalu pergi..' (March 25th, 2008)
Ini jejakku
Jelas
Walau siratnya hanya bayangan
Ini langkahku
Beralih
Walau jalannya lurus
Ini hidupku
HITAM
Meski di tengah pelangi (October 21th, 2007)
Hahhahahahahahahaaa
Cukup membangunkan inspirasi menulis gue yang udah lama tidur. Walau bagaimanapun, masa putih abu-abu gue memang SANGAT bersejarah. Ngajarin hidup, ngajarin kehidupan.
:)
Cukup membangunkan inspirasi menulis gue yang udah lama tidur. Walau bagaimanapun, masa putih abu-abu gue memang SANGAT bersejarah. Ngajarin hidup, ngajarin kehidupan.
:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar