Ku peluk dingin bersama sunggingan pahit dan ku telan habis. Aku dan seruput kopi malam ini, bersama kepulan asap yang bercerita panjang pada kesepian gelap.
Seharusnya mudah bukan? Aku hanya ingin bernafas tanpa beban, tanpa isyarat. Maluapkan apa yang terjejal bersama reruntuhan tinta pena.
Sudah, jangan tanya sedang dimana aku duduk dan bersandar. Ragaku terbujur menatapi kepingan cahaya yang berpendar di atas langit. Aku baik-baik saja, meski tersungkur di belakang telingan alam, bercucur perih menanggapi gelak yang telak.
Jangan khawatir, di muka matamu aku kan bersenanghati merobek air mata dan menempelkan ribuan tawa. Kau tak perlu tahu. Bukankan menurutmu lebih baik jika aku baik-baik saja? Sebuah ironi dimuntahkan setelah ku cerna semua rasa pahit, segala rasa sakit.
Dan penaku terus menari, berdansa bersama kata perih. Jika kehidupan adalah sebatas bayangan, untuk apa aku berdiri dan bertahan? Sekedar menagih maya pergi dan mendatangkan bulan disini. Bulan terlalu lapang untuk dijadikan sudut cacian pada kehidupan, bulan terlalu terang…
Jadi apa yang harus ku cari, kawan?
Bersama semilir musim, aku mencari pesisir landai yang pandai menghilang.
Menghilangkan hatiku…
Sejenak tuk berhenti berpikir tentang kau, dia, kalian, atau mereka. Sisakan seiris saja untuk ku memikirkan sesosok manusia yang lama tenggelam dalam kubangan dosa. Sosok manusia yang terlalu banyak berdusta kata. Sosok manusia bertopeng, berpura-pura. Memikirkan dia, memikirkan cahaya untuknya.
Memikirkan dia, yang adalah aku.
June 14th, 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar